Tampilkan postingan dengan label perfilman indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perfilman indonesia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Oktober 2010

KEBANGKITAN FILM INDONESIA

Indonesia adalah Negara yang terbilang produktif dalam pembuatan film. Dan berbagai film dari bebagai genre pun telah dibuat. Horor, Sex, Metropolitan, Kriminalitas, drama percintaan, sampai film religi juga turut mewarnai perfilman Indonesia.

Beberapa tahun yang lalu mungkin benar jika kita bilang perfilman Indonesia sedang merosot pamornya. Karena penonton hanya disuguhkan ‘tontonan terselubung’ yang sudah dapat dipastikan apa saja yang terkandung di dalamnya. Yang paling parah lagi, mereka harus membayar tiket bioskop untuk melihat adegan adegan yang hampir mayoritas berisikan adegan tak layak tonton (amoral). Hampir setiap bulan bioskop dipenuhi dengan film – film bergenre (yang katanya) horror, Padahal lebih banyak adegan amoralnya daripada adegan horrornya. Dan herannya lagi, kenapa film – film seperti itu masih saja laku di pasaran? Padahal kalau kita bandingkan, film – film Indonesia sudah tertinggal jauh dengan film – film hollywod atau bahkan bollywod.

Bagaimana dengan film – film di asia??

Menurut saya, meski tidak setenar Taiwan atau hongkong, kini jepang sudah mulai mencoba merambah film – film bertaraf internasional. Tentunya tidak mudah membuat film yang diminati oleh orang hingga luar negeri, tapi jepang mencoba memberikan sesuatu dalam filmnya. Kebanyakan cerita yang dibuat oleh negeri sakura itu adalah cerita dengan latar belakang zaman dulu. Mereka sanggup menyatukan antara modernisasi tehnik dan tradisionalitas negaranya.

Namun, kini perfilman Indonesia pun tidak mau kalah. Para filmmaker Indonesia sedang berusaha membangkitkan perfilman Indonesia yang sedang terpuruk dengan membuat film – film berkualitas terbaik. Sebut saja “LASKAR PELANGI” yang syarat akan pendidikan moral bagi siapa saja yang menontonnya. Film besutan Mira Lesmana ini diangkat dari novel yang berjudul sama yang dikarang oleh Andrea Hirata.

Sesungguhnya masih banyak lagi film – film ‘bagus’ yang telah dibuat oleh para filmmaker dalam negeri , Tapi tetap masih tidak sebanyak film – film ‘terselubung ‘ itu. Semoga saja suatu hari Indonesia juga mampu membuat film – film dengan teknologi hollywod, tapi tetap memiliki nilai – nilai yang selalu dijadikan acuan sebagai orang Indonesia. Amin.

Rabu, 06 Oktober 2010

Tontonan yang layak untuk anak

Sinetron. adalah 'makanan' sehari - hari, hampir seluruh masyarakat di kota - kota besar di indonesia.
Dan hampir semua stasiun tv - stasiun tv menayangkan sinetron yang tidak cukup mendidik bagi masyarakat, terutama anak - anak indonesia.
Tema yang diambil pun tidak berbeda jauh dengan apa - apa yang sudah pernah ditayangkan sebelumnya.
kebanyakan sinetron indonesia meniru gaya drama - drama asia, seperti korea dan taiwan.

Anak - anak harus dipaksa menonton tontonan yang selayaknya memang disajikan untuk orang dewasa.
Malahan beberapa anak lebih suka menonton sinetron, daripada menonton tontonan yang mendidik.
Mengapa??
Karena indonesia belum mampu menyajikan tontonan yang mendidik namun juga menghibur.
Indonesia masih harus banyak belajar dari negara - negara tetangga, agar kualitas SDM menjadi lebih baik.
Dimulai dari Anak - anak yang merupakan calon penerus bangsa.
Salah satu karya dari negara tetangga yang sangat tenar di Indonesia adalah UPIN dan IPIN.
menceritakan tentang kehidupan anak desa yang kental dengan ajaran - ajaran moral yang tinggi.

Animasi Lokal Indonesia ‘Terganjal’ Mahalnya Hak Siar

September 2, 2009 by feby_khesa

Amerika memang negara adidaya. Segala hal yang dihasilkan dari negara ini hampir selalu menjadi trendsetter di seluruh dunia, termasuk karya animasinya. Siapa anak-anak Indonesia yang tidak mengenal Spongebob Squarepants atau Dora? Belum lagi film animasi tiga dimensi karya Pixar Studio yang selalu laris di pasaran seperti Monster Inc, Finding Nemo, The Incredibles dan Up yang saat ini sedang diputar di bioskop.

Namun dalam hal animasi, Amerika masih kalah dibanding Jepang. Komik-komik Jepang (manga) dan film-film animasi Jepang (anime) terbukti memiliki pasar konsumen yang sangat besar, tidak hanya di negerinya sendiri. Pada tahun 2002 saja, estimasi nilai transaksi produk-produk anime di Amerika Serikat mencapai 4.3 miliar US dolar, nilai yang bahkan empat kali lebih besar dari nilai ekspor baja Jepang ke negeri Paman Sam.

Menurut Denny A. Djoenaid, Ketua Asosiasi Industri Animasi dan Konten Indonesia (AINAKI), kekuatan Jepang dalam hal animasi terletak pada unsur kebudayaannya. Para animator negara sakura tersebut selalu menampilkan tradisi kebudayaan mereka yang memang berbeda dengan negara Asia lainnya. Denny mencotohkan gaya dandan dan berpakaian anak muda Jepang yang banyak ditiru oleh para remaja di Indonesia.

“Termasuk pengaruh saat membuat gambar animasi. Orang-orang Indonesia lebih senang menggambar tokoh seperti manga Jepang daripada membuat tokoh versi masyarakat Indonesia,” ujar Denny.

Di Indonesia sendiri, tren animasi lokal sudah mulai terlihat. Ada dua film animasi buatan anak negeri yang sempat tayang di bioskop, yaitu Janus Prajurit Terakhir dan Homeland. Sedangkan untuk serial televisi lokal dan nasional, ada Kabayan Liplap, Aku Tahu, Zedi, Kumbang Cilik serta Petualangan Tupi dan Pingping. Apa pula film animasi pendek tentang superhero asal Tasikmalaya, Hebring. Namun menurut Denny, karya-karya animasi lokal ini masih terganjal pada dua hal, minimnya tayangan di televisi dan Sumber Daya Manusia (SDM) itu sendiri.

“Kesempatan untuk memperlihatkan hasil animasi lokal di televisi masih kalah dengan penayangan kartun-kartun dari luar negeri karena daya beli mereka lebih murah (membeli lisesi produk jadinya saja-red). Sedangkan produksi animasi lokal ‘kan proses pra produksi sampai pasca produksi dikerjakan sendiri, jadi biaya hak siarnya pun lebih mahal,” jelas pria berkacamata ini.

Denny melanjutkan, SDM atau tenaga pengajar animasi di Indonedia juga masih sangat minim. “Padahal setahu saya potensi anak muda yang berbakat di bidang ini sangat besar, seperti di Jogjakarta, Bandung, Malang, Denpasar, termasuk di Jakarta,” ucapnya.

Terlepas dari kekuarangan tersebut, Marlin Sugama sebagai salah satu animator Indonesia, menyatakan bahwa Indonesia sebenarnya adalah salah satu negara yang memiliki latar belakang animasi tertua, yaitu penciptaan wayang.

“Dan hal tersebut sangat memperkaya dan mendorong jumlah animator di Indonesia. Dengan animator yang banyak tentunya akan banyak pula variasi karya, tapi secara keseluruhan kita patut bangga pada animasi Indonesia,” tutur Marlin.

Wanita yang juga menciptakan tokoh superhero Hebring bersama suaminya Andi Martin ini, juga mengungkapkan bahwa jika disandingkan dengan negara lain, animasi lokal tidak bisa dibandingkan dari satu sisi saja, karena animasi adalah produk teknologi (terutama yang tiga dimensi) dan sangat tergantung pada SDM.

“Maka sisi teknologi dan SDM terlatih akan menjadi tantangan nomor satu untuk animasi Indonesia agar bisa menghasilkan produk bersaing dengan negara lain,” kata Marlin.


(http://teknopreneur.com/content/animasi-lokal-indonesia-%E2%80%98terganjal%E2%80%99-mahalnya-hak-siar )